KATANYA — Denting rebana menggema di ruang terbuka Taman Teras Udayana, Kota Mataram, Jumat sore (13/2/2026). Di bawah langit yang mulai meredup, sekitar 200 ibu-ibu pemain rebana duduk berderet rapi, melantunkan syair shalawat sebagai penanda datangnya bulan suci Ramadhan 1447 Hijriah. Bagi warga yang melintas, sore itu taman kota berubah menjadi ruang dzikir kolektif—tempat seni, iman, dan kebersamaan bertemu.
Kegiatan bertajuk Syiar Syair Ramadhan ini diselenggarakan oleh Badan Kontak Majelis Taklim (BKMT) Provinsi Nusa Tenggara Barat bekerja sama dengan Sanggar Pelangi Mataram. Ini merupakan kali pertama kegiatan sejenis digelar di ruang publik Kota Mataram dengan melibatkan ratusan perempuan dari berbagai majelis taklim.

Lebih dari sekadar pertunjukan, Syiar Syair Ramadhan dimaknai sebagai ekspresi seni religi sekaligus ruang silaturahmi antar majelis taklim yang tersebar di Kota Mataram dan sekitarnya. Rebana menjadi medium komunikasi spiritual yang tidak hanya ditujukan ke dalam komunitas, tetapi juga kepada publik luas yang hadir secara langsung maupun tidak sengaja menyaksikan.
Bagi sebagian peserta, tampil di ruang publik memberi pengalaman emosional tersendiri. Rebana yang biasa ditabuh di mushala atau acara internal, sore itu berbunyi di tengah taman kota, berdampingan dengan warga yang berolahraga, keluarga yang bersantai, hingga anak-anak yang berhenti sejenak untuk mendengarkan. Ruang publik pun bertransformasi menjadi ruang kultural-religius yang inklusif.
“Kami berharap ini menjadi agenda tahunan di Kota Mataram, untuk mewujudkan semarak Ramadhan,” ujarnya.
Menurutnya, keterlibatan perempuan dalam jumlah besar menjadi pesan penting dari kegiatan ini. Ibu-ibu majelis taklim tidak hanya diposisikan sebagai peserta pasif, tetapi sebagai aktor utama dalam syiar keagamaan melalui seni. Rebana, dalam konteks ini, menjadi simbol peran perempuan dalam merawat tradisi, spiritualitas, dan kohesi sosial.
Pemilihan Taman Teras Udayana sebagai lokasi kegiatan bukan tanpa pertimbangan. Ruang publik ini dipilih agar syiar Ramadhan dapat dinikmati secara terbuka oleh masyarakat lintas usia dan latar belakang. Selain itu, kegiatan ini memperkuat fungsi taman kota sebagai wahana interaksi sosial dan budaya, bukan semata ruang rekreasi.
BKMT Provinsi NTB berharap Syiar Syair Ramadhan dapat menjadi ruang temu antar majelis, mempererat ukhuwah islamiyah, serta mendorong partisipasi aktif perempuan dalam kegiatan keagamaan berbasis komunitas. Dalam konteks kota yang terus berkembang, kegiatan ini juga dibaca sebagai upaya menjaga keseimbangan antara modernitas dan nilai-nilai spiritual.
“Melalui kegiatan semacam ini, semoga dapat mempererat silaturahmi antar majelis dan memperkokoh persatuan,” ungkap salah satu perwakilan BKMT.
Menjelang akhir kegiatan, tabuhan rebana perlahan mereda. Namun gema shalawat seakan masih tertinggal di ruang taman. Syiar Syair Ramadhan bukan hanya menandai datangnya bulan suci, tetapi juga menghadirkan pesan bahwa Ramadhan dapat disambut dengan seni, kebersamaan, dan partisipasi sosial yang inklusif—dimulai dari suara rebana para ibu di jantung kota Mataram.