MEMBIDIK BAID-BAID PENYAIR MUDA

MEMBIDIK BAID-BAID PENYAIR MUDA

Oleh | Wing Sentot Irawan -Tanggal 03 November 2025


"setiap kali menyisir rambutnya

selalu ada beberapa helai yang rontok

lantas ia mengeluh padaku

..." (PEREMPUAN BERAMBUT WAKTU).


Pada sistem komunal, kegiatan sastra seperti Senin Sastra Di Warjack, Taman Budaya NTB semisal begitu. Atau di daerah lain di seluruh Indonesia. Adalah semacam lemari-lemari pikiran sosial. Ketertarikan pada nilai-nilai estetik, sekaligus kecurigaan metaforik dari bentuk gagasan di luar sana. Dalam waktu berbeda, simultan membentuk kedirian dan kekinian sarat nostalgia batiniahnya. Apakah kemudian Keluhan seremonial tradisional, juga rekaan bangunan teks modernitas adanya keterpojokan inisial bernama uang. Pun semacam literasi yang rontok dan tak membangun kisah. Bukankah ada riwayat yang berulang dan berlangsung secara sadar. Sebagaimana orang menyisir rambutnya? Tapi menjadi absurd juga melihat model rambut di salon-salon terkenal. Ada manipulasi nilai-nilai yang diperjuangkan disana. Untuk mempertahankan eksistensi, menyerap dan memperkenalkan idiom baru. Bahwa waktu secara simultan juga melakukan regenerasi simbol atau penanda. Semacam registrasi ulang.  Seperti kesepakatan yang awalnya dianggap special, kemudian usang ditinggalkan. Untuk di daur ulang kemudian. 


Tampaknya proses alami ini  sebagaimana rambut  pelindung kepala ini.  Sebagaimana waktu mengabaikan realitas alamiahnya. Untuk meretas dalam sajak atawa puisi.


Komunitas sastra apakah semacam penanda perubahan sosial dari ketertindasan,  dan status sosial yang kurang berpihak. Menuju permakluman teregestrasi ditingkat institusi? Sebagaimana helai-helai rambut rontok yang perlu perawatan? 


Begitupun nilai sosiokultural oleh sebab bahasa berkepentingan mentransformasikan ketertindasan kultural dan biologisnya. Dikarenakan prilaku bahasa ideal adalah ‘kesewenang-wenangan’  bahasa itu sendiri.


Dalam penggalan sajak-sajak Kiki Sulistyo. Gagasan atau ide adalah riwayat laku keseharian yang kemudian jamak di mengerti. Sekaligus menjelaskan keterpedayaan waktu pada kesejarahan bahasa yang meniscaya. Walaupun humanism serupa kepedulian alam bawah sadarnya. Tapi tindakan perlu institusi, dan itu ada dalam Puisi. Artinya, kedirian secara radikal akan terus  revolusiner. Sebagaimana persoalan rontokkan helai demi helai 'rambut'. Yang tak dimaksudkan sebagai problem biologis maupun kultural. Padanyalah kompromisitas bahasa estetik pada bahasa institusi berpuisi. 


Sastra adalah cerita-cerita bahasa tutur lingkungan yang persuasif. Untuk menerima eksistensi sebagaimana norma meriwayatkan bahasa kemanusiaan itu sendiri. Ia dihidupi dan bertumbuh dalam riwayat dan spirit masyarakatnya.


"ia suka bernyanyi sembari melabur tubuhnya

dengan pengharum beraroma melati

dan aku, 

setelah itu, hanya bisa termangu..."


Bukan berarti eksistensi tidak melebur dalam realitas sosial dan baid-baid puisi. Puisi di sini sebagai kemungkinan bahwa norma-norma realitaskemudian mampu menstimulus 'pembaca'. Bahwa perubahan sekecil apapun akan berlangsung. Walaupun untuk semua itu orang mesti kesepian, terpojok dari masyarakatnya. Bergulat dengan rasa percaya dan setengah putus asa. Juga kesadaran paling manusiawi yaitu, keberdayaan secara sosial maupun politik. Dari kepentingan-kepentingan yang bersliweran dan berebut  'barang galian'. Yang kemudian disebut sebagai proses kreatif.


"memandang takjub pada bau yang rindu

sementara tanpa acuh, mengumpulkan rontokan rambut-rambut itu

di sudut tak tertempuh"

...(PEREMPUAN BERAMBUT WAKTU).


Adanya kesanggupan dan kepercayaan yang senantiasa terus berkelahi dengan waktu. Bahwa mempercayai laku adi kodrati dan mengkaribi lingkungan sosial yang meriwayatkan diri sendiri, Adalah proses kreatif dari semua bentuk resensi buku-buku persoalan sosial. Dari literasi yang bergerak dengan percepatan seimbang. Bahwa eksistensi dan memilih menjadi penyair. Bukanlah logika contekan dari norma puitik pelaku pengambil kebijakan yang menjadikan kedirian tersingkir dari materialsm sosialnya. 


Seorang sastrawan bukanlah model iklan yang membangun teks kontroversial untuk membatalkan apa yang sepatutnya dibatalkan dalam logika paling eksotis dari prodak bahasa. Dalam sastra tak ada kompetisi pemaknaan. Bahasa sastra adalah keberagaman eksistensi yang menjadi dirinya sendiri, semisal Puisi, Cerpen atau Novel. Tak ada rumusan profesional dalam menghasilkan karya sastra, kecuali bangunan yang mengkorelasi realitas sosialnya. Dalam karya satra, spontanitas dan keasyikan berlari sama cepatnya dengan estetika. Bagaimana pengalaman personal dan kedalaman spiritual utuh dalam keyakinan membangun eksistensinya sendiri. 


Kalau boleh saya sebut, sebagaimana hadirnya sastrawan-sastrawan muda, saya memahami sebagaimana seorang kawan bercerita, pada kelengkapan-kelengkapan yang mungkin perlu dimiliki sang pembaca. Jika pun itu saya.

Bagikan: WhatsApp Instagram Facebook Twitter

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!