KATANYA -Upaya meningkatkan daya saing produk lokal terus diperkuat melalui kolaborasi antara perguruan tinggi dan masyarakat. Salah satu langkah nyata dilakukan oleh Tim Pengabdian Universitas Bumigora melalui kegiatan Pengabdian Masyarakat Pemula (PMP) yang menyasar pengrajin gerabah di Desa Banyumulek, Kabupaten Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat.
Kegiatan pengabdian ini dilaksanakan pada 6–7 September 2025 dan menyasar pengrajin yang tergabung dalam Art Shop Creative Carving Banyumulek. Program tersebut didanai melalui Hibah BIMA Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (DIKTI) Republik Indonesia dan dirancang untuk memperkuat kapasitas usaha pengrajin, khususnya dari sisi manajerial dan produksi inovasi.
Tim pengabdian terdiri atas tiga dosen Universitas Bumigora, yakni Baiq Dinda Puspita Ayu, Qatrunnada, dan Ayu Ambang Lestari, serta melibatkan dua mahasiswa, Ni Putu Karinina Febriyanty dan Dwi Isma Handayani. Keterlibatan mahasiswa dalam program ini sekaligus menjadi bagian dari pembelajaran berbasis pengalaman lapangan dan penguatan peran perguruan tinggi dalam pemberdayaan masyarakat.
Melalui program PMP, para pengrajin memperoleh pendampingan manajerial yang fokus pada penguatan tata kelola usaha. Materi yang diberikan meliputi pencatatan keuangan sederhana, perencanaan biaya produksi, serta pengenalan strategi pemasaran yang lebih adaptif terhadap dinamika dan kebutuhan pasar. Pendampingan ini bertujuan membantu pengrajin memahami aspek usaha secara lebih menyeluruh, tidak hanya fokus pada proses produksi.
Selain pendampingan manajerial, tim pengabdian juga memperkenalkan penggunaan peralatan produksi yang lebih modern dan efisien. Inovasi peralatan ini diharapkan mampu meningkatkan produktivitas dan kualitas hasil gerabah tanpa menghilangkan nilai-nilai tradisional yang telah menjadi ciri khas gerabah Banyumulek selama puluhan tahun.
Ketua Tim Pengabdian Universitas Bumigora, Baiq Dinda Puspita Ayu, menegaskan bahwa gerabah Banyumulek memiliki kekuatan pada perpaduan antara nilai budaya dan potensi ekonomi. Menurutnya, pengrajin perlu didukung agar mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman tanpa harus meninggalkan identitas lokal.
“Gerabah Banyumulek tidak hanya memiliki nilai seni dan budaya, tetapi juga potensi ekonomi yang besar. Melalui pendampingan manajerial dan inovasi peralatan produksi, kami berharap pengrajin dapat meningkatkan kualitas usaha sekaligus memperkuat daya saing tanpa kehilangan identitas lokal,” ujar Baiq Dinda saat ditemui tim dia (12/12).
Lebih lanjut, pengembangan Art Shop Creative Carving Banyumulek diarahkan sebagai model usaha berbasis komunitas yang menggabungkan kreativitas desain dengan tata kelola usaha yang lebih tertata. Pendekatan ini diharapkan mampu menghasilkan produk gerabah yang tidak hanya menarik secara visual, tetapi juga memiliki nilai tambah, konsistensi kualitas, dan daya saing di pasar yang lebih luas, baik nasional maupun internasional.
Selama kegiatan berlangsung, antusiasme pengrajin terlihat cukup tinggi. Hal ini tampak dari keaktifan peserta dalam sesi diskusi, tanya jawab, serta praktik langsung penggunaan peralatan produksi yang dimulai oleh tim pengabdian. Para pengrajin juga menyampaikan berbagai kendala yang selama ini dihadapi, mulai dari keterbatasan modal, pemasaran, hingga pencatatan keuangan usaha.
Program PMP ini diharapkan menjadi langkah awal bagi Pengrajin Banyumulek untuk terus berinovasi dan mengembangkan usahanya secara berkelanjutan. Dengan pengelolaan usaha yang lebih baik dan dukungan inovasi teknologi tepat guna, pengrajin diharapkan mampu meningkatkan kemandirian ekonomi sekaligus posisi memperkuat Desa Banyumulek sebagai salah satu sentra gerabah unggulan di Lombok Barat.
Atas terlaksananya program tersebut, Tim Pengabdian Universitas Bumigora menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi melalui Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat atas dukungan pendanaan Program Pengabdian Masyarakat Pemula (PMP) Tahun Anggaran 2025.
Program Pengabdian Masyarakat Pemula (PMP) Tahun Anggaran 2025 merupakan skema landasan dari Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi yang ditujukan bagi pelajar pemula serta perguruan tinggi. Program ini mendorong perguruan tinggi untuk berperan aktif dalam pemberdayaan masyarakat melalui penerapan inovasi berbasis penelitian yang aplikatif dan relevan dengan kebutuhan mitra, khususnya melalui pemanfaatan teknologi sederhana.
Dengan dukungan pendanaan tersebut, PMP melibatkan dosen dan mahasiswa dalam setiap kegiatan. Fokus program utama ini adalah peningkatan kapasitas ekonomi, kewirausahaan, dan kesejahteraan mitra secara berkelanjutan