Kecerdasan Buatan versus Orisinalitas Karya

Kecerdasan Buatan versus Orisinalitas Karya

Oleh | Agus K Saputra -Tanggal 11 October 2025


Perkembangan teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) dalam beberapa tahun terakhir telah membawa dampak besar bagi hampir semua aspek kehidupan manusia. Mulai dari bidang kesehatan, transportasi, industri, hingga seni dan budaya, AI terus mengubah cara manusia bekerja, berinteraksi, dan menciptakan. 

 

Namun, kemajuan ini menimbulkan pertanyaan mendasar: bagaimana posisi orisinalitas karya manusia di tengah dominasi teknologi yang mampu meniru bahkan menghasilkan bentuk kreativitas baru?

 

Pertanyaan inilah yang disoroti oleh akademisi Universitas Mataram, Dr. Agus Purbathin Hadi, pada peristiwa bedah buku Pertemuan Kecil. Menurutnya, AI pada dasarnya bertujuan meniru aktivitas kognitif manusia: belajar, bernalar, mengambil keputusan, hingga melakukan koreksi diri. Dengan kemampuan itu, perangkat berbasis AI bisa menjalankan apa yang disebut acting humanly, yakni bertindak seolah-olah seperti manusia. 

 

Di satu sisi, hal ini membuka peluang baru bagi inovasi, namun di sisi lain menimbulkan kekhawatiran akan redupnya keaslian dalam karya seni, sastra, dan bentuk ekspresi kreatif lainnya.

 

AI bekerja dengan algoritme kompleks, memanfaatkan data besar (big data), dan melakukan analisis yang memungkinkan ia belajar dari pola yang telah ada. Misalnya, dalam dunia seni, AI bisa menghasilkan lukisan dengan gaya Picasso, musik ala Beethoven, atau puisi dengan ritme khas Chairil Anwar. Kecepatan dan ketepatan AI dalam meniru pola-pola tersebut jauh melampaui kemampuan manusia.

 

Hal ini membuat AI mampu menciptakan karya-karya yang sekilas terlihat orisinal, padahal sejatinya merupakan hasil dari proses meniru, menggabungkan, dan mengolah data yang telah ada sebelumnya. Dengan kata lain, AI tidak benar-benar "mencipta" dari nol sebagaimana manusia yang digerakkan oleh intuisi, pengalaman hidup, dan emosi. 

 

Inilah yang kemudian menjadi titik persoalan: apakah karya yang dihasilkan AI dapat disebut orisinal?

 

Di era digital saat ini, batas antara karya orisinal dan tiruan semakin kabur. Banyak seniman yang memanfaatkan teknologi untuk memperkaya karya mereka, misalnya menggunakan perangkat lunak untuk penyuntingan gambar, musik, atau teks. Dengan masuknya AI, kaburnya batas itu semakin kentara.

 

Orisinalitas sering kali dipahami sebagai sesuatu yang lahir dari kreativitas individu, unik, dan tidak meniru karya orang lain. Namun, dalam kenyataannya, manusia pun tidak pernah benar-benar lepas dari pengaruh luar. 

 

Seorang penulis dipengaruhi bacaan yang pernah ia nikmati, seorang musisi terinspirasi oleh musik yang ia dengar, seorang pelukis dipengaruhi oleh karya seni sebelumnya. Dalam konteks ini, orisinalitas sudah sejak lama berada di wilayah abu-abu. 

 

Kehadiran AI hanya mempertegas kondisi tersebut, karena ia bekerja dengan meniru dan mengolah data yang sudah ada untuk menghasilkan sesuatu yang tampak baru.

 

Untuk menjawab persoalan ini, Dr. Agus menekankan perlunya aplikasi atau mekanisme yang mampu mendeteksi keaslian karya. Saat ini, sudah ada perangkat lunak yang bisa memeriksa apakah sebuah tulisan dibuat manusia atau AI, atau apakah sebuah karya seni merupakan plagiasi dari karya lain. Deteksi semacam ini sangat penting untuk menjaga standar kejujuran dan integritas dalam dunia kreativitas.

 

Namun, deteksi saja tidak cukup. Yang lebih penting adalah menumbuhkan kesadaran etika di kalangan pelaku karya dan pengguna AI. Pertanyaan mendasar seperti “apakah sah mempublikasikan karya AI sebagai karya pribadi?” atau “sejauh mana penggunaan AI dalam proses kreatif dapat diterima?” harus dijawab dengan jujur dan terbuka. Tanpa etika yang kuat, teknologi hanya akan menjadi alat untuk memperbanyak plagiasi, bukan memperkaya kreativitas.

 

Menjembatani AI dan Kreativitas Manusia

 

Daripada mempertemukan AI dan orisinalitas karya dalam posisi saling berlawanan, lebih bijak jika keduanya dijembatani. AI dapat dijadikan alat bantu dalam proses kreatif, bukan pengganti manusia sebagai pencipta. Misalnya, seorang musisi bisa menggunakan AI untuk menyusun aransemen awal lagu, tetapi sentuhan emosi, pengalaman hidup, dan interpretasi personal tetap menjadi ranah manusia.

 

Dalam dunia akademik, AI bisa membantu mengumpulkan data atau memberi inspirasi awal, tetapi analisis mendalam dan penyusunan argumen tetap harus dilakukan manusia. Dengan cara ini, AI justru memperluas cakrawala kreativitas manusia, bukan mengikisnya.

 

Seperti yang ditegaskan Dr. Agus, etika adalah kunci utama dalam menghadapi tantangan ini. Teknologi hanya alat; manusialah yang menentukan arah penggunaannya. Jika AI digunakan untuk mempercepat plagiasi, maka orisinalitas karya akan semakin terancam. Namun jika digunakan dengan bijak, AI justru bisa melahirkan bentuk-bentuk baru dalam seni, sastra, dan ilmu pengetahuan.

 

Etika ini mencakup kejujuran dalam mengakui peran AI, keterbukaan dalam menyebutkan sejauh mana karya dipengaruhi teknologi, serta penghargaan terhadap proses kreatif manusia. Tanpa etika, teknologi secanggih apa pun hanya akan menjadi pisau bermata dua yang lebih banyak membawa mudarat daripada manfaat.

 

Perdebatan antara kecerdasan buatan dan orisinalitas karya tidak akan selesai dalam waktu dekat. Keduanya akan terus bergulir seiring berkembangnya teknologi dan cara manusia memahami kreativitas. Namun satu hal jelas: orisinalitas tidak lagi bisa dipandang sebagai sesuatu yang absolut, melainkan sebagai hasil dari proses yang kompleks, dipengaruhi banyak faktor, termasuk teknologi.

 

Yang perlu ditekankan adalah bagaimana manusia tetap menjadi pusat dari proses penciptaan. AI boleh membantu, meniru, bahkan menginspirasi, tetapi esensi kreativitas sejati lahir dari pengalaman, emosi, dan kesadaran manusia. Oleh karena itu, yang terpenting bukanlah menolak AI, melainkan menggunakannya dengan bijak, berlandaskan etika, dan dengan tetap menjaga integritas karya.

 

Dengan demikian, kecerdasan buatan dan orisinalitas karya bukanlah musuh bebuyutan. Keduanya dapat berjalan bersama, saling melengkapi, asalkan manusia tidak melupakan tanggung jawab moralnya. Seperti kopi tanpa gula yang tetap nikmat meski pahit, karya manusia tetap akan berharga jika dikerjakan dengan kejujuran, meskipun di era ketika mesin bisa “berkarya” layaknya manusia.

 

#Akuair-Ampenan, 11-10-2025

Bagikan: WhatsApp Instagram Facebook Twitter

Komentar

Wing Irawan
3 months ago

Njur komentator hadirnya konsep AI, seperti saya dan anda itu diuntungkan po di rugikan secara etik maupun estetik. Pada posisi dimenangkan po dikalahkan atas hadirnya logika AI? Njuk 'eksistensi' logis dari keberadaan AI dalam realitas sosial itu, sebatas tawaran, bujuk rayu, paksaan atau keharusan? Artinya, komentar seperti ini pun kan sejatinya juga salah satu elemen dasar AI.