Sahde, dari Cinta Musik Menjadi Pioner Kecimol

Sahde, dari Cinta Musik Menjadi Pioner Kecimol

Oleh | Katanya Admin -Tanggal 30 September 2025

KATANYA - Sahde, atau yang akrab disapa Amaq Det, tak pernah menyebut dirinya seniman. Warga Mapak Belatung, Mataram, ini hanya mengaku punya satu hal: cinta pada musik. Dari kecintaan itu, ia merintis kelompok Cilokaq Modern, yang kemudian berevolusi menjadi Merpati Nusantara—grup Kecimol yang kini dikenal luas di Lombok. Sejak sekitar tahun 2010–2011, kiprah Amaq Det bukan hanya menghadirkan hiburan murah meriah, tetapi juga mengubah wajah nyongkolan menjadi pesta rakyat penuh euforia.

 

Bagi masyarakat Lombok, Kecimol adalah jawaban atas kebutuhan hiburan yang terjangkau. Dengan biaya sekitar Rp3 juta, sebuah keluarga dapat menghadirkan rombongan berisi 20–25 orang: pemain musik, penari, penyanyi, hingga kru sound system.

 

“Kalau tradisi seperti Gendang Beleq, memang sakral, tapi mahal. Kecimol lebih terjangkau dan suasananya juga lebih rame,” ungkap Suratman (39), warga Labuapi, Lombok Barat, yang pernah menyewa Kecimol untuk acara nyongkolan.

 

Murah bukan berarti murahan. Justru di situlah daya tarik Kecimol: ia tidak dimaksudkan untuk menggantikan tradisi, melainkan memberi warna baru—sebuah pesta jalanan yang lebih egaliter dan dekat dengan selera masyarakat.

 

Perjalanan Sahde dimulai dari kelompok Cilokaq Modern. Dalam dua tahun awal, format itu kemudian bertransformasi menjadi Merpati Nusantara. Perubahan ini tidak hanya soal nama, tetapi juga tentang eksperimen musikal yang terus bergulir: dari Cilokaq, Ale-ale, Ciledut (Cilokaq Dangdut), hingga Kecimol.

 

“Semua karena saya suka musik. Itu saja,” ujar Sahde merendah, saat ditemui di rumahnya (3/09).

 

Berbeda dari kesenian tradisional yang terikat pakem, Kecimol memberi kebebasan penuh pada para pelakunya. Instrumen bisa beragam: keyboard, gitar elektrik, bass, drum elektronik, ketipung, suling bambu, tamborin, ditambah sound system dengan kapasitas yang fleksibel sesuai kebutuhan.

 

Sound system sendiri menjadi “roh” Kecimol. Tidak ada aturan baku berapa besar daya, jenis, maupun jumlahnya. Yang terpenting adalah bagaimana menciptakan suasana meriah, membuat orang turun ke jalan, dan berjoget sepanjang prosesi. Jika Gendang Beleq menekankan sakralitas, maka Kecimol menghadirkan euforia.

 

Di balik riuhnya musik, Kecimol juga menjadi sumber penghidupan. Bayaran per pemain berkisar Rp100–200 ribu per acara. Jumlah yang tampak kecil, tapi karena prosesi nyongkolan berlangsung hampir setiap hari—kecuali Jumat—penghasilan tetap terjaga.

 

“Kalau sebulan penuh main, bisa dapat Rp2–3 juta per orang. Kalau ada tanggapan menginap, sekali main bisa Rp10–12 juta untuk satu kelompok,” jelas Sahde.

 

Dengan ritme acara yang padat, Kecimol tak hanya jadi hiburan, tetapi juga ladang ekonomi bagi banyak anak muda Lombok.

 

Popularitas Kecimol kian meluas. November 2023 di Karang Cemes, Sumbawa Besar, ribuan warga tumpah ke jalan menyaksikan prosesi nyongkolan yang diiringi Kecimol. Di Gapok, Lombok Tengah (Mei 2024), irama dangdut membuat pengiring pengantin berjoget sepanjang jalan. Sementara di Suralaga, Lombok Timur (April 2025), bahkan payung adat ikut bergoyang mengikuti hentakan musik.

 

Kecimol pun menjelma dari hiburan lokal menjadi fenomena budaya lintas pulau. Kesadaran akan pentingnya media membuat Merpati Nusantara merambah dunia digital. Channel YouTube “Merpati Nusantara Official”, yang dibuat pada 23 November 2022, kini memiliki lebih dari 1.200 pengikut dengan hampir 200 video.

 

Lagu-lagu Sasak seperti Gulung Lante atau Bajang Lauk Kawat tampil berdampingan dengan tembang nasional populer seperti Pandangan Pertama dan Juragan Empang. Dari jalanan Lombok, Kecimol kini bisa dinikmati siapa saja, kapan saja, di layar gawai.

 

Kecimol adalah cermin masyarakat Lombok hari ini: dinamis, cair, dan selalu mencari ruang untuk bergembira. Di balik dentuman sound system dan hiruk-pikuk nyongkolan, ada kisah seorang pria sederhana yang hanya mencintai musik. Sahde, atau Amaq Det, mungkin bukan musisi besar, bukan pula maestro tradisi. Namun dari cintanya yang tulus pada musik, ia telah melahirkan sebuah fenomena budaya baru. Dan kini, setiap kali jalanan Lombok dipenuhi jogetan, senyum, dan teriakan gembira, di sanalah jejak cinta musik Sahde terus hidup—menular, bergema, dan menjadi sejarah.

  

Paradoks di Tengah Popularitas

 

Namun, di balik gemerlapnya Kecimol, ada paradoks yang masih menggantung hingga hari ini. Di satu sisi, Kecimol terbukti menjadi ruang kreasi sekaligus ladang penghidupan bagi ratusan bahkan ribuan masyarakat Lombok. Setiap prosesi nyongkolan yang diiringinya mampu menggerakkan ekonomi masyarakat. Ironisnya, keputusan larangan itu justru berseberangan dengan kenyataan di lapangan: Kecimol masih terus digemari masyarakat dan dipakai dalam berbagai prosesi.

 

Fenomena ini menunjukkan bagaimana Kecimol hidup dalam ruang tarik-menarik antara kebutuhan masyarakat, kepentingan ekonomi para pelakunya, serta tuntutan pemerintah untuk menjaga ketertiban umum.

 

Di tengah kontroversi, yang kerap terlupakan adalah potensi besar Kecimol. Ia bukan hanya alat hiburan, tetapi juga peluang lapangan kerja yang nyata. Bagi para pemain, Rp100–200 ribu per kali tampil bisa berarti kebutuhan dapur tetap terisi. Bagi tuan rumah, biaya sewa Rp3 juta sudah cukup untuk membuat pesta nyongkolan menjadi meriah. Jika saja potensi ini dikelola dengan bijak, Kecimol bisa menjadi salah satu industri kreatif khas Lombok yang bukan hanya menyemarakkan pesta rakyat, tetapi juga berkontribusi pada ekonomi daerah.

 

Kunjungan Katanya Media ke Kelompok Kecimol Merpati Nusantara


Sayangnya, dinamika sosial dan gelombang kontroversi membuat sejumlah kelompok Kecimol meredup, termasuk Merpati Nusantara yang dulu sempat menjadi pioner. Tak sedikit anggotanya akhirnya terpaksa meninggalkan panggung jalanan dan mencari peruntungan di luar daerah. Ironi ini menegaskan bahwa ketika ruang kreasi dan nafkah dibatasi, banyak anak muda kehilangan kesempatannya untuk menggerakkan perekonomian di daerahnya.

 

Di titik inilah peran pemerintah daerah menjadi penting. Bukan sekadar melarang atau membiarkan, melainkan mencari jalan tengah: regulasi yang adil, aturan yang bijak, sehingga Kecimol tetap bisa hidup tanpa harus menimbulkan keresahan. Karena pada akhirnya, Kecimol bukan hanya soal dentuman musik atau riuh jogetan. Ia adalah ekspresi budaya sekaligus sumber penghidupan. Membunuh Kecimol sama saja dengan menutup pintu kreasi dan rezeki bagi banyak orang.

 

Bagikan: WhatsApp Instagram Facebook Twitter

Komentar

Jamiluddin
4 months ago

Asik menarik bahas kecimol ❤️❤️❤️

M Rahmat
3 months ago

Penggerak ekonomi kreatif, harus didukung👍🏼👍🏼👍🏼👍🏼👍🏼