Etis dan Etik Itu Rumit
'Disegerakannya perjalanannya sedapat mungkin supaya lekas tiba di kota tempat melelang budak. Sebab ia hendak membeli seorang budak lagi. Budak yang badannya tegap untuk di jual ke daerah selatan. Tetapi terlebih dahulu ia membelenggu tangan Pak Tom, sebab takut kalau-kalau Pak Tom lari.' Aku petik paragraf ini dari tulisan cerpen, Hariet B.S.
John Cage komponis tersohor Amerika mengatakan;
Tindakan eksperimental adalah salah satu hasil yang tak terduga. Seperti tertulis dalam katalog pameran Art music Today. Ulasan dalam majalah Seni Rupa Visua. Nmr 36. April-Mei 2010. Begitulah kotradiksi gagal paham antara seniman dan birokrasi pemerintah. Yang menjadikan kesenian pun tradisi gagap mengapresiasi ‘kepentingan’.
Estetika adalah keindahan dengan tingkat kerumitan. Untuk dapat dijelaskan sebelum industri kreatif menjadi semacam pusat belanja realitas sosial dan aturan main pasarm. Khususnya pasar pariwisata seperti di NTB ini. Ketika kebijakan dan tatanan masyarakat menyepakati lahirnya kebijakan kebudayaan adalah lebih baik dari 100 pikiran baik, semisal begitu. Maka kesenian khususnya karya seni bertranformasi dengan nilai-nilai visual yang kerapkali menjadi kawasan populis masyarakat modern. Dan sebagian praktisi seni tradisi dan modernitas terjebak pada pilihan sulit antara keterpinggiran materialsmenya, dan ideologi berkeseniannya. Posisi rawan itu, menjadikan sejumlah karya seni tampak tak sebirahi penampakan seni kepentingannya. Termasuk meredaksikan kepentingan dalam pengelolaan. Bahwa adanya seniman dan birokrasi, meriwayati lahirnya bentuk seni khas lembaga seperti Taman Budaya NTB, semisal begitu. Maka lembaga terkait atasnya adalah lembaga budaya ‘seni anggaran’. Yang lahir dari tindakan-tindakan dan proses berkesenian itu sendiri.
Di Jepang kita mungkin pernah membaca dan mengenal tradisi minum teh. Teh disiapkan secara khusus oleh orang yang mendalami seni upacara minum teh yang di sebut Chashitsu. Tuan rumah bertanggungjawab dalam mempersiapkan situasi yang menyenangkan untuk tamu. Seperti memilih lukisan dinding (Kakejiku), Bunga (Chabana) dan mangkok keramik yang sesuai dengan musim dan status tamu yang di undang. Semisal begitu.
Tentu menjadi sempurna komplit dan utuh dibutuhkan koordinasi dengan semua perangkat institusi dan pemahaman tehnis yang memadai. Juga hadirnya kepemimpinan lembaga yang arif dan memiliki kepekaan yang layak dihadapankan pada teritori kelembagaan seperti Taman Budaya NTB. Birokrat tidak mesti seniman atau budayawan. Tapi ia mampu dan sanggup mengelola koneksitas dari intepretasi pengelolaan terkait anggaran. Dan memiliki apresiasi pada ideologi seni juga praktisi seni. Bagaimana merespon dan melahirkannya dalam satu kebijakan yang berpihak. Untuk tumbuh kembangnya kebudayaan dan pelaku seni. Sekaligus membaca sisi- sisi kepentingan pasar.
Seni Dokumentatif Birokrasi
Begitu juga dengan lembaga bernama Taman Budaya NTB. Estetika yang dipahami oleh logika materialisme sebagai gentong-gentong dokumentasi dan tradisi ritual pasar. Yang seolah-olah tak pernah ingkar menggenapi sebutan Tuhan. Diucapkan berulang-ulang diakhiri dan di-'Amini'. Birokrasilah yang menambah keterangan; “bahwa ada kemerdekaan seniman yang kalian nikmati. Maka letakkanlah rasa terimakasih itu di atas semua bentuk estetik dan etik dari keberadaan Taman Budaya itu sendiri”. Sebagai lembaga yang seolah-olah lebih berpihak pada yang berkepentingan.
Seniman adalah pelayan-pelayan heroik ditengah hiruk-pikuk dan jungkirbaliknya perasaan 'girang'. Bahwa bisa makan dan bisa minum saja di jaman seperti sekarang, merupakan kesadaran berbangsa dan bernegara di medan sosial. Begitulah kodefikasi meredaksikan narasi. Sebab menghargai kekinian adalah memahami bertubi-tubinya perasaan terasing juga kemiskinan yang bangkrut oleh pertukaran informasi dan pengetahuan logis, terkait persoalan ekonominya. Bahwa manusia butuh makan, butuh minum, butuh berinteraksi secara sosial, butuh eksistensi. Dan Taman Budaya NTB yang notabenenya menaungi praktisi seni, berkepentingan pada adanya kreatifitas seni. Berkepentingan pada hasil proses kreatif seniman. Meski miris mendudukkan ideologi atas kepentingan pihak terkait. Bahwa modernitas adalah juga kualitas pikiran-pikiran terpojok. Spiritualism gagap dengan kepiawaian art yang terkoleksi dan terkoneksi secara literer. Lantas dimana rasa terima kasih anda yang menyebut dirinya berkepentingan?
Kemiskinan terdaftar menjadi penghuni tetap museum peradaban, Itu etisnya. Sebab begitu banyak orang-orang besar dilahirkan ditengah-tengah kondisi seperti itu. Begitulah persahabatan eksistensi dan kepentingan penguasa membaptis orang, patut di sebut sebagai, ‘seniman’. Apakah pelaku seni se-estetis dan se-etik kontruksi kepentingan secara antropologis itu sebab di-amininya? Seolah hal tersebut tak se-khidmat pelaku-pelaku seni di Taman Budaya NTB. Artinya, Seniman di Taman Budaya boleh bangkrut asal bukan kepentingannya. (baca;anggaran). Sebab ghiroh kesenimanan khususnya di Taman Budaya Mataram dan realitas sosial adalah adanya anggaran. Yang secara dokumentatif toh tak jauh-jauh dengan “Seni Anggaran”. Persoalannya, hampir seluruh pengelolaan anggaran terkait kesenian dan kebudayaan di NTB tercatat sebagai kepentingan dari sejumlah ‘tindakan eksperimental’ seperti ungkapan John Cage.