Katanya — Sejak pertengahan Desember 2025, sebuah kerja kajian budaya yang berlangsung senyap mulai bergerak di sejumlah wilayah Lombok Utara. Kajian bertajuk “Gendang Beleq sebagai Nafas Tradisi dan Masa Depan Wisata Budaya Lombok Utara” ini menandai dimulainya upaya inventarisasi dan dokumentasi sistematis terhadap salah satu kesenian tradisional penting masyarakat Sasak, dengan dukungan pendanaan dari Dana Indonesiana.
Kegiatan tersebut digagas oleh Galih Suryadmaja, S.Sn., M.A., yang juga bertindak sebagai pengusul dan ketua tim pelaksana. Tahap awal kegiatan dimulai melalui rapat persiapan pada 15 Desember 2025, yang difokuskan pada penyusunan instrumen kajian, pemetaan awal kelompok Gendang Beleq, serta koordinasi dengan jejaring komunitas seni dan pemangku kepentingan lokal di Kabupaten Lombok Utara.
“Pada tahap awal ini kami sengaja tidak langsung turun secara massif ke lapangan. Penyamaan persepsi tim dan pemetaan awal menjadi penting agar kerja lapangan nanti tidak serampangan dan tetap menghormati konteks sosial budaya setempat,” ujar Galih.

Dalam pelaksanaannya, proses inventarisasi dan dokumentasi tidak lepas dari berbagai kendala lapangan. Salah satu tantangan utama adalah belum tersedianya data terpusat mengenai jumlah dan sebaran kelompok Gendang Beleq di Lombok Utara. Informasi awal kerap bersifat parsial dan bertumpu pada ingatan tokoh adat atau catatan informal desa, sehingga memerlukan proses verifikasi berlapis secara langsung di lapangan.
“Di beberapa desa, keberadaan kelompok Gendang Beleq hanya diketahui secara lisan. Bahkan ada kelompok yang tidak lagi aktif secara rutin, tetapi masih hidup dalam ingatan kolektif masyarakat. Situasi seperti ini tidak bisa disederhanakan hanya dengan angka,” kata Galih.
Kendala lain muncul dari kondisi geografis serta jadwal aktivitas kelompok seni yang tidak seragam. Sejumlah kelompok Gendang Beleq hanya aktif pada momentum tertentu, sementara kelompok lainnya berlatih secara insidental mengikuti kebutuhan sosial masyarakat. Situasi tersebut menuntut fleksibilitas metode kerja sekaligus ketelitian agar konsistensi data tetap terjaga.
Menanggapi kondisi tersebut, Galih memilih menerapkan pendekatan partisipatif sebagaimana dirancang sejak awal dalam proposal kegiatan. Koordinasi diperkuat dengan tokoh setempat di berbagai wilayah Lombok Utara serta para pelaku seni sebagai informan kunci. Jadwal dokumentasi pun disesuaikan dengan ritme kegiatan sosial dan adat masyarakat setempat.
“Bagi kami, inventarisasi budaya bukan sekadar mendata, tetapi membangun relasi. Kalau relasi sosialnya tidak terjaga, data yang diperoleh justru kehilangan makna,” ujarnya.
Prinsip tersebut sejalan dengan kerangka kerja Dana Indonesiana yang menekankan akuntabilitas, keberpihakan pada pelaku budaya, dan keberlanjutan dampak. Menurut Galih, kerja lapangan tidak bisa semata-mata mengejar target administratif, tetapi harus memberi ruang dialog dan kepercayaan kepada komunitas.
“Kalau hanya mengejar luaran, kita bisa selesai cepat. Tapi kalau ingin dampaknya berkelanjutan, prosesnya harus sabar dan menghormati cara hidup masyarakat,” katanya.
Pendekatan ini tercermin dalam strategi kerja yang mengintegrasikan pengumpulan data dengan analisis awal secara simultan. Catatan lapangan, dokumentasi audiovisual, dan wawancara tidak hanya dikumpulkan sebagai arsip, tetapi langsung dipetakan untuk mendukung capaian indikator luaran yang telah ditetapkan. Dengan strategi tersebut, tahap awal kegiatan ditargetkan mampu mencapai lebih dari 40 persen capaian luaran pada fase pertama.
Kajian ini diarahkan untuk menghasilkan basis data komprehensif mengenai Gendang Beleq di Lombok Utara, dokumentasi audiovisual, modul muatan lokal untuk pendidikan, serta rekomendasi kebijakan pengembangan wisata budaya berbasis komunitas. Seluruh luaran tersebut dirancang selaras dengan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan, sekaligus mendukung arah kebijakan pembangunan nasional dan tujuan keberlanjutan.
Memasuki bulan-bulan awal pelaksanaan, Galih menegaskan bahwa keberhasilan program tidak semata diukur dari terselesaikannya luaran, melainkan dari sejauh mana proses kajian mampu memperkuat posisi komunitas Gendang Beleq.
“Harapan kami sederhana: Gendang Beleq tidak hanya terdokumentasi, tetapi dipahami dan dimiliki kembali oleh komunitasnya sendiri sebagai pengetahuan yang hidup,” ujarnya.
Dengan dukungan Dana Indonesiana, kerja kajian ini diharapkan menjadi model praktik inventarisasi budaya yang tidak berhenti pada dokumentasi, tetapi berkontribusi nyata bagi dunia pendidikan, perumusan kebijakan, dan masa depan wisata budaya Lombok Utara.
