Dari Lombok, Kecimol Lebih Dulu Hadirkan Musik Bergerak Sebelum Fenomena Sound Horeg

Dari Lombok, Kecimol Lebih Dulu Hadirkan Musik Bergerak Sebelum Fenomena Sound Horeg

Oleh | Katanya Admin -Tanggal 30 September 2025

Katanya — Fenomena sound horeg belakangan viral di Pulau Jawa. Pawai dengan pengeras suara raksasa, lampu berkelap-kelip, hingga dentuman bass yang menggetarkan tanah kini menjadi tontonan sekaligus kontroversi. Namun, jauh sebelum itu, masyarakat Sasak di Lombok sudah lebih dulu mengenal tradisi musik arak-arakan menggunakan sound system melalui kesenian Kecimol.

 

Kecimol adalah seni musik populer masyarakat Sasak, Nusa Tenggara Barat. Banyak orang mengartikan makna dari Kecimol, ada yang menyebut nama itu merupakan akronim Keciq Molah (kecil dan enak), ada juga yang menyebutnya sebagai singkatan dari Kesenian Cilokaq Modern Lombok atau Kesenian Cilokaq Masyarakat Lombok. 

 

Kecimol lazim hadir dalam prosesi nyongkolan atau arak-arakan pengantin, serta berbagai hajatan rakyat. Dalam catatan akademik, kecimol terbagi ke dalam dua corak: tradisional yang masih menggunakan instrumen lokal seperti gendang, suling, dan rincik, serta modern yang menggabungkan keyboard, gitar elektrik, hingga pengeras suara.

 

Di banyak desa, rombongan pengiring pengantin berjalan sambil diiringi dentuman musik dari sound system yang digerakkan bersama. Suasana ini membuat arak-arakan terasa meriah sekaligus menjadi identitas budaya masyarakat Sasak. Bisa dibilang, jauh sebelum istilah sound horeg dikenal, masyarakat Lombok sudah akrab dengan konsep “musik bergerak” yang memadukan adat dengan teknologi.

 

Bukan sekadar hiburan, kecimol memegang peran sosial. Ia menjadi medium kolektif untuk menegaskan solidaritas komunitas, memperkuat identitas, dan meramaikan momen sakral pernikahan. Bahkan ketika berhadapan dengan kritik, seperti adanya joget erotis yang pernah disisipkan dan dianggap tak relevan dengan adat Sasak, kecimol tetap bertahan. Hal itu menunjukkan sifat adaptifnya sebagai kesenian rakyat.

 

Di Jawa, sound horeg muncul sebagai tren baru. Fenomena yang awalnya berkembang di Malang Selatan ini cepat meledak berkat media sosial. Ciri khasnya: sound system berukuran raksasa, dentuman bass yang ekstrem, ditambah lampu strobo, layar LED, dan panggung portabel.

 

Tak jarang, acara ini menarik kerumunan besar layaknya pesta jalanan. Tetapi popularitasnya juga menuai polemik. Banyak warga mengeluhkan kebisingan, gangguan lalu lintas, hingga kasus kecelakaan yang sempat viral. Di Brebes, misalnya, seorang peserta karnaval jatuh dari atas sound horeg dan meninggal dunia. Kasus lain menunjukkan konflik antara warga dan kru sound karena dianggap mengganggu ketertiban umum.

 

Polda Jawa Timur menegaskan pelarangan aktivitas sound horeg yang dianggap meresahkan. 

“Himbauan larangan sound horeg … Polri mengimbau kepada seluruh masyarakat untuk tidak mengadakan atau menyelenggarakan kegiatan sound horeg atau sejenisnya yang dapat menimbulkan kebisingan dan keresahan warga,” demikian pernyataan resmi Polda Jatim, dikutip dari DetikJatim (25/09/2024).

 

Dalam kesempatan lain, Kabid Humas Polda Jatim Kombes Pol Dirmanto juga menekankan, “Larangan ini diterbitkan sebagai bentuk respon atas banyaknya aduan dari masyarakat. Mari bersama-sama kita ciptakan lingkungan yang tertib, aman, nyaman, dan kondusif” (DetikJatim, 25/09/2024).

 

Menurut Fatwa MUI Jatim No. 1 Tahun 2025, penggunaan sound horeg yang melewati batas wajar dan merugikan pihak lain dinyatakan haram, sedangkan penggunaan yang dalam intensitas wajar dan tidak mengganggu diperbolehkan. Fatwa tersebut menjadi dasar moral bagi pemerintah daerah dalam merumuskan regulasi yang lebih terukur.

 

Kecimol dan Sound Horeg: Sama Rasa, Beda Makna

 

Meski berbeda konteks, baik kecimol maupun sound horeg sama-sama menghadirkan gagasan “musik bergerak” yang memanfaatkan teknologi audio. Bedanya, kecimol lahir dari akar budaya Sasak dan melekat dalam prosesi adat, sedangkan sound horeg tumbuh sebagai hiburan massa modern yang dipicu logika viral media sosial.

 

“Kalau di Lombok, musik dengan sound dalam arak-arakan itu bagian dari identitas budaya. Sedangkan di Jawa, sound horeg lebih ke hiburan jalanan yang spektakuler,” ungkap Rapi Renda, peneliti seni di NTB (18/09).


Sound Kecimol, Properti Kecimol Kelompok Merpati Nusantara

 

Perbedaan konteks ini menjelaskan mengapa respon masyarakat juga berlainan. Di Lombok, kecimol lebih diterima karena dianggap bagian dari tradisi, meski sesekali mendapat kritik. Sedangkan di Jawa, sound horeg dipandang sebagai gangguan publik karena intensitas kebisingannya jauh melebihi ambang batas kesehatan telinga, serta lebih menekankan pada pertunjukan ketimbang nilai budaya.

 

Fenomena kecimol memberi pelajaran penting: penggunaan teknologi dalam musik rakyat bisa berjalan selaras dengan tradisi jika diikat oleh nilai sosial dan budaya. Transformasi yang dialami kecimol menunjukkan bahwa inovasi dalam kesenian tidak harus menanggalkan akar budaya.

 

Namun, baik kecimol maupun sound horeg sama-sama membutuhkan regulasi yang jelas. Keduanya membuktikan bahwa kreativitas masyarakat sering kali bergerak lebih cepat daripada aturan yang ada. Regulasi diperlukan bukan untuk mematikan kreativitas, melainkan memastikan ekspresi budaya tidak menimbulkan gangguan bagi masyarakat luas.

 

Fenomena sound horeg mungkin tengah jadi bintang baru di Jawa, tapi jejak kecimol di Lombok membuktikan bahwa konsep “musik bergerak” dengan teknologi audio sebenarnya bukan hal baru. Bedanya, satu berakar pada adat dan identitas budaya, satu lagi lahir dari era digital dan logika viral.

 

Dalam hal ini, keduanya menegaskan satu hal: musik selalu mencari cara baru untuk hadir, berpindah, dan menggetarkan. Dari arak-arakan nyongkolan di Lombok hingga jalanan Jawa yang bergemuruh, musik bergerak tetap menjadi cermin bagaimana budaya dan teknologi saling bertaut.

 

Bagikan: WhatsApp Instagram Facebook Twitter

Komentar

Renda
3 months ago

Tooooopppppp

Renda
3 months ago

Tooooopppppp